Kemarin, selama pagi hingga malam bergulir.
Satu hari yang menjelma kurang lebih dari 210 hari.
Adalah hari-hari penuh siksa, karena aku yang terusan menumbuhkan rindu, sementara kamu sekuatnya mengikisku.
Yang menjadi awal, dimana diam-diam kamu mulai menempati lahan yang semakin meluas dalam hati dan pikiranku, serta aku yang memang ingin kamu jadikan atom untuk dilupakan. Sungguh, argh...
Harusnya kamu melarangku, bahkan untuk sekedar menyebutmu.
Dan segalanya terlanjur, berubah menjadi luka yang berdarah-darah.
Aku mulai menikam semua rindu, harap dan anganku yang semula ku namai dengan nama mu.
Mengenaskan, memang.
Sampai suatu hari, aku terbangun.
Mencoba menanyakan "kenapa".
Seharian aku mencari jawab, ditemani malam aku benar-benar tersadar sepenuhnya.
Ada dia yang kamu pilih, menjadi -yang kamu sebut-, prioritas vitalmu.
Lantas, aku bisa apa? Menangis? Depresi? Tidak mungkin lagi, hal semacam itu bahkan sudah tuntas kulakukan, sejak aku mulai merindumu.
Dan lagi, aku tidak suka merebut bahagiamu, meski kamu nyatanya hanya memberiku ribuan kata palsu.
Karena malam tiba, dan hari yang tak lagi pagi.