Minggu, 25 Januari 2015

Seusai Pagi

Kemarin sudah selesai.
Kemarin, selama pagi hingga malam bergulir. 
Satu hari yang menjelma kurang lebih dari 210 hari. 
Adalah hari-hari penuh siksa, karena aku yang terusan menumbuhkan rindu, sementara kamu sekuatnya mengikisku. 
Yang menjadi awal, dimana diam-diam kamu mulai menempati lahan yang semakin meluas dalam hati dan pikiranku, serta aku yang memang ingin kamu jadikan atom untuk dilupakan. Sungguh, argh...
Harusnya kamu melarangku, bahkan untuk sekedar menyebutmu.
Dan segalanya terlanjur, berubah menjadi luka yang berdarah-darah.
Aku mulai menikam semua rindu, harap dan anganku yang semula ku namai dengan nama mu.
Mengenaskan, memang.
Sampai suatu hari, aku terbangun. 
Mencoba menanyakan "kenapa". 
Seharian aku mencari jawab, ditemani malam aku benar-benar tersadar sepenuhnya. 
Ada dia yang kamu pilih, menjadi -yang kamu sebut-, prioritas vitalmu. 
Lantas, aku bisa apa? Menangis? Depresi? Tidak mungkin lagi, hal semacam itu bahkan sudah tuntas kulakukan, sejak aku mulai merindumu. 
Dan lagi, aku tidak suka merebut bahagiamu, meski kamu nyatanya hanya memberiku ribuan kata palsu.
Karena malam tiba, dan hari yang tak lagi pagi. 

Karena bahagiamu bukan denganku, aku melepasmu......

Selasa, 04 November 2014

hidden content

manusia ....

ada sisi yang setia dipeluk erat oleh tiap orang,
yang hanya sendirinya dan Tuhan yang tahu, sisi itu
pada keluarganya pun, ditutup rapat
berakting sesempurnanya, bagai menaruh topeng di muka sendiri

jangan ingkari, kita juga mungkin...
seperti itu
yang juga membenci orang, seperti itu

you should do

to you who will be my destiny

kuanggap rindu ini seperti angin yang bertiup, memainkan helai daun dengan semesranya
kubiarkan datang, tinggal dan pergi sekehendaknya
sakitpun juga, kubiarkan datang, tinggal dan hidup
yang berujung pergi sembunyi, bukan lenyap

tanyaku,
lalu, apa kamu juga seperti mereka?
kumohon jangan, jadilah kekal dalam lorong kebersamaanku
bisakah?


inspired by: jang jae yeol -it's okay that's love- ep 14